12.06.07

Senja di Halte Bus Cileunyi

Ditulis dalam Sastra pada 12:34 pm oleh Indra Kosasih

Ba’da Maghrib saat aku melangkahkan kaki dari rumahmu. Setelah shalat Maghrib tentu saja. Agar tenang di perjalanannya katamu.

Sejujurnya, berat rasanya aku harus meninggalkanmu, Rin. Kalau saja tidak ingat akan kewajibanku, kalau saja tiada sekat antara kita, tentu aku lebih memilih tetap berada di sampingmu. Aku tidak mau meninggalkanmu sendiri, berbalut sepi dan letih menanti. Apalagi kau sering mencemaskanku di rantau. Ah, sekelumit rasa itu cepat-cepat kutepis, sayang. Kusadar harus segera pergi.

“Apa tidak menunggu dulu hujan reda A?” tanyamu dengan wajah cemas.

Aku melirik jam tanganku. Memastikan sudah jam berapakah sekarang.

“Takutnya A kemalaman ke sananya. Apalagi kalau sudah terlalu mala ‘kan tidak ada bus yang ke Jakarta.” jawabku sambil menengok lagi ke luar lewar gorden kaca. Hujan memang masih turun meskipun tidak begitu lebat.

Kau terdiam mendengar jawabanku itu. Namun aku dapat memahami apa yang kini bergelayutan dalam hatimu.

“Jangan khawatir. Insya Allah A akan baik-baik saja. Jangan lupa do’akan A ya”

Kamu mengangguk kecil. Perlahan ku buka pintu. Dan aku mulai melangkah ke luar. Wessstt….angin dingin kontan mengecup pipiku. Dingin sekali rasanya.

“Cuacanya sangat buruk A.” lagi-lagi kekhawatiranmu terlontar mulus.

“Do’akan A, ya. Jangan terlalu khawatir.” ujarku sambil merengkuh bahunya. Sejenak kami beradu tatapan. Lantas kau menunduk. Sekelebat kutangkap boliran bening melompat. Aku tak kuasa melihat itu. Tapi apa yang harus aku lakukan? Kau menangis lagi, sayang? Batinku teraduk. Andai saja boleh tentu tak ‘kan kubiarkan air matamu tumpah cuma-cuma. Aku akan menyekanya. Dan kubiarkan wajahmu tenggelam di dadaku. Tentu akan ku peluk engkau erat-erat agar kau pun merasa tentram dengan kepergianku. Sayang, itu masih terlarang buat kita. Aku tidak bisa melakukan apa yang sebenarnya ingin kulakukan itu.

Pukul 18:30, aku meninggalkanmu. Gerimis masih tersisa saat kau melambaikan tanganmu. Aku melangkah agak terburu-buru, takutnya hujan kembali turun lebat. Tak lama aku mencegat angkot menuju halte bus Cileunyi. Rumahmu memang tidak begitu jauh dari tempat itu. Hanya beberapa ratus meter saja. Andai saja boleh sebenarnya aku ingin kau antar sampai pintu bus yang membawaku, namun tentu saja itu tidak boleh. Apalagi hari menjelang malam. Kau pun tahu, tak baik bagi seorang gadis keluyuran malam-malam. Aku lebih mengkhawatirkanmu daripada diriku sendiri. Karena ku tahu kau adalah seorang gadis cantik. Aku takut ada orang-orang terminal yang mengganggumu. Ah, segera kutepis pikiran-pikiran buruk itu. Aku tidak mau memikirkannya. Yang terpenting kau jagalah baik-baik dirimu di rumah. Biarlah masalah keluar mah urusan laki-laki. Aku lebih suka engkau menjadi permaisuri yang terjaga selamanya.

Turun dari angkot tak langsung ada bus yang akan membawaku ke Jakarta. Beberapa saat aku harus bersabar menunggu. Hujan pun turun lagi, sayang. Aku berteduh di halte bus. Kulihat di samping kiri kananku sesama calon penumpang yang berdiri kedinginan. Malah tak jarang diantara mereka ada yang saling berpelukkan. Mungkin suami istri, atau siapanyalah karena aku tidak tahu persis. Yang ku tahu hanyalah perasaan berat seperti halnya yang kini kita rasakan. Berat melepaskan kepergian orang yang tercinta. Berat rasanya harus jauh dengan insan yang tersayang. Itulah yang bisa kurasakan saat melihat mereka. Namun satu hal yang harus kita catat, bahwa kita tidak sendirian, Rin. Aku bukanlah satu-satunya lelaki yang punya mimpi di dunia ini. Dan engkau pula bukanlah satu-satunya gadis yang harus bersabar menanti kepulangan kekasihnya.

Dan inilah yang diam-diam aku pahatkan dalam jiwaku. Agar aku senantiasa sadar dan terjaga. Hidup ini penuh proses, sayang. Penuh perjuangan dan pengorbanan. Dan harapan itu tidak dapat kita raih dengan instan.hujan

Aku mengerti sedang di jalan apa berlalu dan ke arah mana menuju. Tegas, betapa aku tidak boleh berhenti, di jalaur kehendak dan cita-cita oleh sesuatu yang sebenarnya sederhana. Jujur saja, engkau bukanlah tujuan utama, meski sebenarnya aku tak mau jauh darimu. Namun aku tidak mau cita-cita luhurku kandas hanya karena rasa ini. Justru engkau kujadikan motivasi untuk meraih masa depan yang mungkin juga demi mewujudkan cinta kita kelak.

Ini bukan sekedar ukuran untung atau rugi. Ini juga benar-benar bukan soal cinta atau tidak cinta kepadamu. Tapi ini sungguh-sunggu soal pemahaman, kemengertian, kesadaran dan juga kedalaman penghayatan tentang keputusan apa yang harus kuambil di kala aku tergoda.

Kita tahu, orang-orang sukses menjadi sukses karena mereka tidak pernah berhenti menginvestasikan untuk dirinya karya kebajikan. Satu prinsip hidup, jangan pernah berhenti, sebelum hidup punya arti. Perjalanan kita masih panjang. Masih banyak yang harus kita cari di dunia ini. Dan tetap pada prinsip dasar hidup kita, semua itu kita lakukan untuk meraih keridhaan-Nya. Tiada yang lain. Bahkan bila dikait-kaitkan dengan jalinan kita, untuk membuktikan kesungguhan cinta kita tidak cukup sekedar bermodalkan CINTA.

Oya, sepertinya aku harus naik bus sekarang. Aku harus berangkat. Tolong jaga dirimu selama aku jauh darimu. Jagakan kerinduan kita pula, jangan sampai tumpah belum saatnya.

Rin, Bus yang kutumpangi ternyata sudah penuh sesak. Aku tidak kebagian kursi untuk duduk. Tak apa, aku akan berdiri saja. Ini adalah perjuangan. Pengorbanan untuk masadepan kita…

Tunggu Aku…

Ditulis dalam Puisi pada 10:24 am oleh Indra Kosasih

Kau boleh melihat

keadaanku saat ini

namun aku yakin

punya harapan kelak

yang tak ‘kan pernah padam

walau selalu tersiram derasnya airmata

tak ‘kan luluh

meski terus dibakar bara dunia dan luka

“Tunggu Aku…”

‘kan kubuktikan makna cinta

yang pernah kutitipkan

mungkin tlah usang?

namun tetap kujaga di kedalaman

jiwa qudusku…

Rindu

Ditulis dalam Puisi pada 10:08 am oleh Indra Kosasih

Jika kudapat mengulang waktu,

ingin rasanya diri ini kembali

ke saat itu

saat dimana diriku begitu dekat-Mu

disaat kucurahkan seluruh cintaku

Mungkin ada penyesalan

tapi aku memang rindu pada-Mu

sempat terbersit di hati

mengapa tak dari dulu

Kau berikan cahaya ini

mengapa tak dari dulu

Kau ulurkan Tangan-Mu menjamahku

Sempat kumenangis karena keresahan dan bimbang diri

aku berdiri di tepian

tak tahu jalan yang harus kupilih

aku terseret langkah tertatih

dalam babak baru kehidupanku

aku menjadi manusia seutuhnya

manusia yang hanya inginkan Ridha-Mu

ya Allah…