12.07.07

Watashiwa Kimiko desu

Ditulis dalam Sastra pada 8:21 am oleh Indra Kosasih

Tap! Kakiku menapaki bavingblock di area masjid Pusdai-Bandung itu. Suasana pagi masih sejuk. Hawa pun masih segar dan bersih. Mungkin karena hari Ahad, kendaraan di jalan raya pun tidak begitu ramai seperti hari-hari biasanya. Selain orang-orang yang lari pagi menuju lapangan Gasibu. Di lapangan tersebut biasanya sangat ramai oleh orang-orang yang berolah raga dan berdagangan. Ah, segala macam tingkah tentu ada di sana. Maklum Ahad adalah momentum yang ditungu-tunggu untuk berlibur bersama keluarga, teman atau orang-orang tercinta setelah sepekan berjibaku dengan berbagai kesibukan.

Aku melangkah ke area parkir. Berdiri seorang diri sambil celingukan mencari temanku yang janjian di tempat ini. Teman baru. Tepatnya begitu. Ialah yang memintaku untuk menyebutnya sebagai teman. Baru seminggu yang lalu kami berkenalan, saat aku final lomba karya tulis ilmiah kejepangan di STBA Yapari. Dia seorang gadis Jepang keponakannya paman Hirata, pemilik yayasan Melati-Sakura. Tak kusangka memang jika hari itu aku akan berkenalan dengan gadis Jepang itu. Dia yang mengajakku berkenalan setelah aku turun dari panggung sehabis presentasi.

“Raihan-san ya?” tanyanya sambil tersenyum. Aku mengangguk. “Watashiwa Kimiko Desu.” imbuhnya memperkenalkan diri. Kami bersalaman. “Saya senang sekali berkenalan denganmu. Presentasimu bagus sekali. Kamu ternyata pengagum negaraku rupanya.”

“Begitulah. Saya tertarik dengan Jepang karena kemajuannya. Dengan tidak mengurangi kecintaanku pada negaraku.” ujarku.

“Sama kalau begitu.”

“Maksudmu?”

“Indonesia memang tidak secanggih Jepang dalam teknologinya. Namun justru saya menyukai Indonesia karena keindahan alam dan budayanya. Makanya sejak kecil saya paling suka jika diajak  Oji-san Hirata berlibur di Indonesia. Kau tahu sendiri saya fasih sekali berbahasa Indonesia?” paparnya sambil mengajakku duduk di sebuah kursi.

“Oya, Raihan-san sendiri, bisa bahasa Jepang ya?” tambahnya lagi.

“Sedikit-sedikit. Saya baru belajar.”

“Tak apa. Belajar bahasa intinya kosakata dulu kok. Ketika belajar bahasa Indonesia saya pun begitu.”

Obrolan pun mulai meruncing. Kimiko mengungkapkan keinginannya untuk belajar agama Islam padaku. Ia mengatakan tertarik pada Islam apalagi saat presentasi tadi aku menyitir beberapa ayat Al-Qur’an. Ia sendiri sebenarnya masih beragama nenek moyang, Shinto. Namun sayang obrolan kami terpotong waktu. Pengumuman lomba segera dibacakan oleh dewan juri. Dan Alhamdulillah aku juara pertamanya.

“Benar kataku ‘kan? Kau memang hebat Raihan-san.” ujar Komiko berapi-api sambil menyalamiku. Aku bahagia sekali hari itu. Maklum itu kali pertamanya aku menjadi juara sebagai perwakilan dari sekolahku. Madrasah Aliyah Negeri 2 Bandung tingkat Jawa Barat. Aku diberi dua buah piala besar dan uang pembinaan sebagai hadiahnya.

“Raihan-san, maukah engkau menjadi temanku?” tanyanya sebelum kami berpisah digerbang kampus STBA Yapari.

“Kenapa tidak Kimiko-san. Apalagi jika kamu ingin belajar Islam,”

“Jadi kau bersedia membimbing saya?”

“Insya Allah. Kita akan sama-sama belajar. Karena saya pun masih dalam tarap belajar.”

“Kapan kita bisa bertemu lagi?”

“Terserah kau punya waktu.”

“Raihan-san sendiri tidak sibuk?”

“Bukan masalah sibuk. Jika dikatakan sibuk saya memang sibuk sekolah. Hari Minggu pun saya ke sekolah untuk latihan seni, namun jika Kimiko-san mau saya tentu bisa meluangkan waktu,”

Arigatou gozaimasu, Raihan-san. Kau memang teman yang menyenangkan. Saya baru akan pulang ke Jepang Minggu depan, jadi kita bisa bertemu dalam minggu-minggu ini.”

“Baiklah. Kau pikirkan dulu tepatnya kapan. Nanti kita bertemu lagi,”

“Engkau punya nomor handphone?”

“Ada.” ujarku. Lantas menyebutkannya. Dan Kimiko catat di Handphonenya.

Kami pun berpisah sore itu. Baru tadi malam Kimiko menghubungiku ngajak bertemu. Kami pun sepakat untuk bertemu di tempat ini. Pagi ini. Tapi ia tidak kulihat. Mungkin belum datang?

Jarum jam tanganku menunjukan pukul delapan lewat lima. Aku melangkah lagi. Mencarinya ke sebelah barat, barangkali dia menunggunya dekat stand penjual majalah. Tidak ada. Terus kucari-cari. Namun tetap nihil. Lantas aku duduk diteras masjid yang sudah dipel bersih itu. Menunggunya.

“Mencari siapa A?” tiba-tiba dari belakangku. Sepontan aku menoleh pemilik suara itu. Seorang penjaga masjid.

“E…anu, saya menunggu teman, pak,” jawabku sedikit tergeragap karena kaget.

“Janjian di sini ya?”

“Ya. Tapi sepertinya belum datang.”

“Sabar saja. Mungkin masih di perjalanan.” ujanya sebelum pamit meninggalkanku. Aku mengangguk kecil dan berterimakasih.

Tak lama berselang masuklah Honda Jazz Hitam metalik ke area parkir. Tak jauh dari tempatku duduk. Kulihat, barangkali saja Kimiko, batinku. Ternyata benar. Dia turun dari Jazz itu. Gadis Jepang dengan perawaka ramping. Dia mengenakan Baju tangan panjang. Cukup sopan meski bawahannya celana Jeans yang sedikit ketat. Rambut sebahu dibiarkannya tergerai bebas. Ia tersenyum padaku memamerkan lesung pipit di kedua belah pipi lembutnya. Ah, selewatan Kimiko mirip dengan Erika. Bintang film Jepang yang berperan sebagai I Keuchi Aya dalam 1 Littre Tear.

“Hei! Bengong saja. Sudah lama menunggu ya? Maaf saya terlambat datang soalnya…”

“Tak apa,” gesitku sambil menyembunyikan merah di wajahku. Ah, kenapa perasaanku tiba-tiba saja deg-degan begini?

Kimiko duduk di sampingku.

“Maaf. Raihan-san marah ya? Saya terlambat karena belum tahu jalan ke sini. Maaf ya. Maaf. Kapan-kapan tidak akan lagi…” Ia memelas. Aku tersenyum lega. Memang orang Indonesia saja yang terkenal ngaret? Sekali-kali Orang Jepang pun harus merasakannya.

******

Bagaimana? Apakah anda penasaran cerita lanjutannya?

Saya mohon do’a dan dukungan anda, karena cerita di atas merupakan potongan dari novel yang sedang saya tulis. Insya Allah judulnya : Sang Utusan (The Messenger). Maka dari itu saya menanti respon anda;

Terimakasih

Tinggalkan sebuah Komentar

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.