12.10.07

Bisalah MERASA jangan sekedar merasa BISA!

Ditulis dalam Evaluasi diri pada 2:15 pm oleh Indra Kosasih

Bisa merasa, tak sekedar sebuah empati, tapi lebih mendasar lagi, ia adalah inti kesadaran dan puncak obyektifitas, sesuatu yang dalam dalam Islam sering disebut inshof.

Bila kebiasaan dan kecakapan diperlukan dalam hidup sebagai keterampilan, maka ‘bisa merasa’ atau kebiasaan untuk merasa adalah sisi dalamnya, rohnya, sekaligus jiwanya.

Seperti kisah tentang orang-orang yang kaya atau mampu. Kepada mereka tidak saja dianjurkan untuk bersedekah. Tetapi kemampuan dan kebisaan bersedekah itu masih harus dilengkapi dengan mentalitas yang bersih. Seperti dijelaskan oleh Allah dalamfirman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnnya dan menyakiti (perasaan penerimanya).” (QS. Al-Baqarah: 264).

Ayat di atas dengan jelas mengajarkan tentang pentingnya ‘bisa merasa’. Tidak sekedar ‘merasa bisa’. Bahwa bisa bersedekah itu baik. Tetapi bila ke’biasa’an bersedekah itu dinodai oleh ketidakmampuan ‘untuk merasa’ maka akan rusak jadinya.

Bisa merasa adalah kemampuan untuk memiliki tradisi kesadaran, menggunakan pikiran yang matang dan cara pandang yang obyektif. Kemampuan dan kebiasaan kita bersedekah, dalam contoh di atas, harus diiringi dengan kebisaan untuk merasa, menyadari, bahwa toh sumber rezeki itu dari Allah. Bahwa penerima sedekah itu belum tentu orang yang lebih hina secara derajat ketaqwaan dari pada kita, bahwa seberapa pun besar sedekah kita, kita harus menyadari betapa kita bukan segala-galanya. Begitu seterusnya.Seperti filosofi padi, tidak saja semakin merunduk semakin berisi, tapi juga semakin berisi semakin merunduk…

Sumber : Tarbawi edisi 95

Tinggalkan sebuah Komentar

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.