12.11.07

Romantisme Kampus : KKN (Kuliah Kerja dan Nikah)

Ditulis dalam Kisah Kehidupan pada 1:05 am oleh Indra Kosasih

Selalu ada hikmah dari peristiwa terburuk sekalipun.

“Dulu sebelum nikah, saya kuliahnya malas-malasan. Sering hang out sama teman-teman,” tutur Sil, mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta.

Ia mengaku kehidupannya di awal kuliah sangat bebas, apalagi sebagai anak kos yang jauh dari orang tua. “Nggak ada yang ngelarang saya mau ngapain aja. Mau pulang apa enggak ke kos, nggak ada yang marah, ” paparnya.

Namun, semuanya berubah ketika ia terpaksa harus menikah karena buah kebebasannya harus dibayar mahal. Ia terpaksa menikah karena hamil. Otomatis, kehidupannya berubah 180 derajat. Kebebasan itu berganti kerepotan mengurus anak yang menyita separuh waktunya.

Tetapi Sil tidak lantas mengorbankan kuliah.

“Malah kehadiran anak memotivasi rajin kuliah. Pengennya cepat lulus biar bisa total mengurus anak,” kata Sil. Hal serupa dirasakanTy, bukan nama sebenarnya.

“Ternyata hamil itu bikin aku tambah pinter. Soalnya seumur-umur belum pernah dapat indeks prestasi (IP) di atas 3,5,” kata Ty.

Psikolog Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Muhammad Fauzil Adhim, yang kerap menulis buku tentang pernikahan mengungkapkan, menikah dini justru dapat memberi motivasi tinggi.

“Dengan menikah, seseorang dipacu berusaha semaksimal mungkin menggunakan potensi yang dimiliki. Ia juga dituntut berani menghadapi segala persoalan. Makanya mahasiswa tidak perlu takut untuk nikah sambil kuliah,” kata Fauzil.

Tapi, opini fauzil dan apa yang dialami para ibu muda itu cuma sebagian. Mereka tetap konsisten pergi ke kampus saat hamil dan punya anak.nikah

Tidak kurang yang justru memutuskan berhenti kuliah. Jadi, putuskan sekarang sebelum menyesal!

Mau nikah atau kuliah? Atau dua-duanya? Yang penting mampu dan bisa, kenapa tidak; daripada Zina! (atau seperti kisah di atas nikah karena zina? Anda diberi hati dan pikiran; segala perbuatan yang dilakukan pasti akan ada akibatnya. Entah itu baik maupun buruk. Jadi pakailah hati nurani!

========

Tutur mereka :

Rika: “Banyak tema-teman kaget saat itu, dikira hamil dulu. Tapi, tidak peduli apa kata orang, toh orang tua saya menyetujui. Lama-lama, teman-teman juga mengerti alasan saya untuk menikah,”

Usi: “Berat banget rasanya saat itu. Perasaan campur aduk, menyesal, marah, sedih, takut, malu, semua jadi satu. Kehamilanku saat itu aku tutup-tutupi, hanya beberapa teman yang tahu. Lainnya hanya menduga-duga, kemudian bergosip. Wah, pokoknya enggak enak banget saat-saat itu,”aku hamil mak

Wira: “Saya memang ingin menikah karena ingin tahu bagaimana rasanya menikah. Daripada terjerumus ke hal negatif, lebih baik menikah,”

Sapto: “Saya justru semakin kuat menapaki kehidupan, selain itu karena ingin menunjukan keseriusan kepada pujaan hati, juga menhindari zina. Dalam satu tahun ini, saya mendapat tiga berkah luar biasa, istri saya lulus dengan predikat mahasiswa teladan, anak saya lahir, dan terakhir saya sendiri merampungkan kuliah,”

Tergantung motivasi:

Kepala Jurusan Ekonomi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang Agus Wahyuddin mengungkapkan beberapa motivasi yang mendorong mahasiswa menikah.

“Motivasi ekonomi, sosial, psikologi dan biologi,”

“Kemampuan menghadapi masalah yang biasanya muncul dalam kehidupan rumah tangga. Juga, kemandirian ekonomi jadi persoalan karena sebagian besar mahasiswa belum punya pendapatan tetap,”

“Laki-laki menutup-nutupi karena takut dikira menghamili anak gadis orang maka menikah buru-buru, atau alasan lain, faktor harga diri. Kewajiban suami menafkahi istri, jika dilihat lingkungan sosialnya tidak mampu, sama saja harga dirinya jatuh,” papar Edwi.

Ehm, jadi srius nih mau nikah muda?

Sumber : Media Indonesia 11 Des’ 2007 dengan tambahan.

Tinggalkan sebuah Komentar

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.