01.14.08
1 Muharram di RSUD Budi Asih
Sejatinya memang di awal tahun ini aku sudah menuai sinar matahari yang hangat dan cerah. Riuh ramai burung-burung gereja yang berloncatan di atap-atap gedung dan tanah-tanah halaman rumah. Bahagia. penuh dengan rencana-rencana di awal tahun. Agar tahun ini bisa mencapai target hidup, minimal.
Pun begitu diriku. Semalam pulang magang dengan teman-teman aku pun punya banyak rencana. malah sebelum tidur kutulis salah satu rencanaku untuk merampungkan novel pertamaku “Muqadimah Cinta” pada bulan January ini. Dan February aku telah mempromosikannya kepada penerbit dan sponsor di kota Bandung.
Tapi ketentuan Allah memang tak bisa diprediksi. Kenyataannya akupun hanya bisa berencana saat tiba-tiba peristiwa itu menimpaku.
Waktu Subuh yang seharusnya aku takzim dalam sujudku
Pulang magang kedua sahabatku Nunu dan Lutfi menginap di kamarku di belakang masjid kampus. Mereka tidak pulang ke rumahnya karena memang sudah terlalu malam. Sudah tidajk ada lagi kendaraan yang akan membawanya ke rumah di daerah Bojong.
“Tak apa” Ujarku. “Menginap aja di sini.”
Mereka pun menginap.
Dan Subuh, waktu kami terjaga dari tidur terdengar panggilan Adzan. Sebagai muslim kami pun segera bangun dan keluar kamar menuju tempat wudhu yang tidak seberapa jauh. Kami berjalan bertigaan. Saat itu ada heran di pikiranku. Mengapa tidak biasanya lampu di depan mushalla dimatikan. Pun begitu dengan lampu-lampu di depan kampus. Jadinya suasana gelap. Lantas saat kami sudah berada hampir depan mushalla aku melihat ada seseorang yang berbaring. Mungkin tidur, Terkaku. Dan keherananku itu ternyata di rasakan sahabatku, Nunu.
“Siapa itu?” Tanyanya padaku sambil berbisik.
“Nggak tau,” Jawabku sejujurnya.
Tak kuduga orang yang tadi tiduran itu ternyata tidak tidur dan mendengar pertanyaan Nunu. Dia bangkit. Dan…
“Ngapain nanya-nanya?” Serunya sewot. Kami bingung dibuatnya. Memangnya siapa yang menanyainya?
“Memangnya kenapa?” Tanyaku dengan nada tenang sekaligus bingung.
“Iya ngapain nanya-nanya? Sini kamu!”
Aku menghampirinya. Terang saja aku tidak takut toh aku tinggal di sini dan merasa berkewajiban jika ada tamu yang hendak bertanya.
“Ada apa?” Tanyaku kemudian setelah berjongkok di sampingnya. Nunu dan Lutfi terus ke tempat wudhu. Sepertinya mereka memang tak acuh dengan semua itu. Mungkin biasa atau malah bingung sepertiku. Tapi mereka tidak hendak ikut campur.
Pertanyaan pertama yang gak penting itu terus dia ulang-ulang. Dengan nada yang kian meninggi. Saat itu pula aku bisa menebak kalau orang yang berada di sampingku ini orang tak warah alias mabuk alkohol. Aksesoris anting-anting dan dari penampilan rambutnya pun aku bisa langsung menebak kalau dia memang bukan orang baik-baik. Minimal ‘preman kelas ecek-ecek’lah.
Ditanya begitu aku semakin bingung. Kedua sahabatku pun datang lagi karena nada bicara kami kian meninggi. Terang saj aku pun mengimbangi pertanyaan tolol dia. (ah, dasar aku. mungkin memang baru tidur ya). Jengkel dengan semua itu. Dan aku mencium adanya sesuatu yang kurang beres. Aku pergi meninggalkan orang itu. Niatku untuk mengunci pintu kamar yang tadi belum dikunci. Jaga-jagalah. Bikan Su’uzhan. Karena di kamar banyak barang berharga, salah satunya HPku.
“Ngapain berusan pergi?”
Hehehe… so what gitu loh. Memangnya apa urusan dia naya-nanya? Bantinku
“Memangnya kenapa?” Tanyaku lagi berlaga pilon.
Nah saat itulah tangan dia tak tahan mendorong tubuhku. Aku jatuh 100% tanpa mampu menahan serangan dadakan itu. Secepat itu aku menyadari keadaan. Ini ngajak ribut. Pikirku dan kontan membalas. Jadilah suasana rucuh. Teman-teman dia yang rupanya lagi boker tadi datang membantu. Pemukulan pun tak terelakan lagi. Meski demikian aku sempat melihat, salah seorang temannya lari kearah gerbang kampus. Mungkin untuk mengundang balad-baladnya. Dan ternyata benar.
Plak! Dampratanku mengenai sasaran tapi tiba-tiba,
Buk! Tonjokan mengenai kepalaku.
Situasi semakin ricuh saat teman-temannya semakin banyak dan rupanya mereka bernapsu banget ingin menghajarku. Di tengah-tengah heroik itu masih sempat mereka mengumpat. Tak jarang kata-kata The Zoo nya keluar.
“Emangnya lo orang mana sih?”
“Gue tinggal di sini!”
“Gue penduduk di sini tau! Gue orang sini!”
Karena tidak berimbang beberapa menit kemudian aku jatuh tersungkur. Dalam keadaan setah sadar dan tidak, pukulan masih tetap dihujamkan ketubuh dan kepalaku. Di satu sisi orang bernafsu menhabisiku, di sisi lain aku dengar beberapa yang melerai termasuuk kedua sahabatku, satpam dan orang yang tidak kukenal. Mungkin salah satu teman mereka.
Aku menyilangkan tanganku di wajah. Berhap pukulan tidak tembus lagi. kuraba wajahku yang bonyok tek berupa. Darah pun keluar dari mulut dan hidungku. Dan gigiku… masya Allah patah yang depan.
Saat aku masih dalam keadaan sadar. Aku mendengar perintah mencuci muka. Aku menurut meski pikiranku entah. Setelah itu jiwaku mengajak berlindung di dalam mushalla. Aku pun menurut. Dan di sanalah aku terjatuh tak ingat apa-apa lagi.
Beberapa jam kemudian…
Aku menggeliat kesakitan kupicingkan mataku yang sebelah, kulihat banyak orang.
Di manakah aku ini?
Pertanyaan itu terjawab setelah aku menyadari keadaan. Banyak perawat. Banyak orang mengaduh kesakitan Dan ada beberapa polisi. dan Di pergelangan kiriku menancap jarum infus. Berarti aku di
rumah sakit. Berarti kejadian tadi bukanlah mimpi?
Kamis 10 sampai 13 Januari 2008 Aku tergolek di RSUD Budi Asih. Kramat Jati Cawang Jakarta Timur. Aku telah dikroyok oleh mereka. Mataku sebelah kiri bengkak tak bisa melihat. Gigi depanku patah. Kepalaku berdarah. Wajah, hidung dan tubuhku terasa memar semua. Masih beruntung hasil ronsen tiada tulangku yang patah. Ah, apa sebenarnya yang telah terjadi padaku?
Ibuku menangis di Cianjur. Dari seberang suara HP. Rin, Cintaku di Bandung pun demikian. Mereka berkabung kerena tragedi ini. Sampai tulisan ini saya tulis, mereka masih menungguku. dan tulisan ini saya buat tiada unsur ketidaksengajaan. Saya sengaja menuliskannya aga semua orang mengambil hikmah dari kejadiaan saya ini. Alkohol, dan semacamnya jika disalah gunakan hanya akan merugikan orang lain. Kata siapa mabuk itu HAM? Kalau begitu saya pun punya HAM untuk membuat pernyataan ini, bukan?
MAAF DAN HUKUM
Keberangkatan saya ke Cianjur ternyata harus dibatalkan karena kepoliasiannya hari kemarin (Ahad) libur. Dengan demikian saya menginap di dalam kampus dengan Sensei dan sahabatku Irman. Sebelum tidur, saat kami menonton final piala Copa Indonesia, orang tua orang-orang yang mengeroyokku datang. Intinya hendak meminta maaf dan mencabut pelaporan saya ke pihak yang berwajib. Mereka meminta damai secara kekeluargaan.
“Ya, kalau secara pribadi saya sudah memafkannya. Sama sekali saya tidak dendam terhadap para pelaku. Namun masalah hukum harus tetap ditegakkan. Memaafka secara pribadi bukan berarti harus mencabut hukum, bukan? Jika memang kejadian ini akan ditanggung bersama, mari kita tanggung bersama. Saya mengambil cuti kuliah untuk penyembuhan di Cianjur sampai batas waktu yang belum ditentukan, dan para pelaku silakan pula cuti sekolah, serta beristirahatlah di rumah (Tahanan). Kalau begitu, adilkan? Sama-sama menanggung semua ini bersama-sama. Tidak lantas saya cabut hukum dan kalian enak-enak menghirup udara segar. sementara saya berbaring menunggu penyembuhan.
DIL!
Thanks To :
Dalam musibah ini saya banyak-banyak berterimakasih kepada pihak kampus yang menanggung 100% biaya rumah sakit. Motivasi, dedikasi secara moril maupun materil begitu besarnya yang saya rasakan selama ini. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Agar semakin baik dan waspada.
Kepada Teman-teman sekampus yang telah mendukung saya saat penyembuhan. Meski tak bisa saya sebutkan satu persatu, saya yakin segala budi baik dan pengorbanan kalian hanya Allah yang akan membalasnya denga pahal yang lebih besar.
Pihak keluarga saya di Cianjur, ibu bapak, saudara dan para tokh masyarakat
Keluarga saya di Bandung, terutama ibu dan bapak asuhku. Rin, seseorang yang sabar menanti kepulanganku. “Jangan khawatir, sayang. A akan baik-baik saja. Semoga segala kecintaan dan kasih sayangmu tidak akan pernah luntur meski kini A cacat fisik,”
Keluargaku pula di Singaparna-Tasikmalaya,
Dan seluruh sahabat-sahabatku, di Surabaya, Malang, Malaysia, Cairo-Mesir, Tolong kalian jangan terlalu gusar deng berita ini. Mari kita hadapi semua ini dengan kepala dingin. Mari ambil hikmahnya saja deng tetap hati-hati dan waspada.
Kepada teman-teman yang dengan sabar menanti novelku, “Muqadimah Cinta”, bersabarlah terus. Semoga di balik semua ini akan terselip nikmat tiada tara. Insya Allah novel yang kalian tunggu akan terus saya selesaikan di Cianjur. Sembari menunggu penyembuhan saya. Mohon do’anya saja dari semua.
Terakhir,
Apapun yang kini terjadi, Alhamdulillah takan menyurutkan segala tekat dan misi hidup saya mencapai ridha-Nya. Dan semua ini akan menjadi motivasi buat lebih Dahsyat lagi.
Saya bersyukur, karena Tuhan saya adalah ALLAH SWT!

