12.28.07
Senyuman di Hari Qurban
Ikut tersenyum,
bersyukur karena usiaku sampai juga pada Qurban tahun ini.
Meski baru mengenal sebuah rutinitas,
namun coba terus mendaki sampai punyak ma’rifat.
Bahwa qurban bukan sekedar menyemblih hewan,
menyimbahkan darah ke bumi
lebih dari itu
Berqurban jiwa raga
untuk penuhi titah langit
semata berharap ridha-Nya
Allah…
12.18.07
Ditepian Rindu
satu
Kutitipkan
kidung rindu kasmaran
pada setiap helaian nafas do’aku
Jika saatnya nanti
kau tetap yang kurindu…
Jangan pernah sangsikan
di sini s’lalu kujaga untukmu
kesucian cinta memutik
ditepian rindu,
kita memadu…
dua
…kutetap mengingatnya
ikrar cinta kita tempo hari
sayang, aku takan meninggalkanmu
meski kini kita jauh…
tiga
Di tangan ini
masih tersimpan rapi
pikulan amanahmu
jaga cinta kita
di manapun kanda berada…
dinda setia mentimu kembali
di tepian rindu…
empat
ingat aku harus segera pulang
aku ditunggumu
dirindumu
semakin lalai
semakin menjauh waktuku tiba di hadpmu
ah, amanah ini sayang
motivasiku…
demi wajah cantik yang sabar menanti
di tepian rindu
memadu…
Taman Sunyi
Tiada apapun yang kucari di sini
kecuali secuil harapan semu
gelak tawa-canda tak kurasa buatku bahagia
rasanya aku memang tersia
Luluh lunglai
langkah-langkah kecil yang kueja
sarat dengan redup hari
semakin membuatku tersunyi…
Detik demi detik tak pernah berpihak
apa terlalu jauh jarak kutempuh
nyatanya langkahku tak jua berhenti
di hadapanmu…
Di mana engkau harus kutuju
hingga waktu takan rela memisahkan lagi…
Setangkup Rindu
Padamu,
yang ada di sana
sungguh,
kuingin kembali pulang
‘tuk menyapamu
kar’na kuyakin di sini
masih ada setangkup rindu
yang utuh seperti dulu…
GERIMIS
Rin,
Saat malam turun perlahan
menjemput gerimis di sini
sunyi…senyap menikam
sendiri…
Angan melayang jauh bersama angin
mengepakan sayap-sayap rindu tak bertepi
menzarahimu,
berharap kutahu kabarmu kini…
(AH!) Sesalku:
“Mengapa kita harus selalu jauh…
mengusung sepinya hari
dalam gerimis ini…”
[bukankah sebelumnya aku
lelaki yang tidak pernah menangis hanya karena merindui]
[salut: ternyata kau bisa, Rin...]
12.09.07
Puspita Belia
Kutinggalkan Tasikmalaya yang damai
dalam sapuan rindu cintaku
mungkin kelak ada saat tepat
untukku kembali menyapamu…
Tasik,
kutitipkan puspita beliaku
jaga dan hiburlah gelisahnya
agar ia tak pernah terpojok dalam kepapaan
penantiannya,
Tasik,
damaikanku pula,
hening langkah sang musyafir
‘kan s’lalu rindui saat-saat bersamanya:
di pematang,
di antara hiruk pikuk
dan dalam kehangatan senyummu
kutitip puspita beliaku
Tasik,
Kutitipkan Puspita beliaku
dalam tautan aroma syurga-Mu…
dalam bait-bait Qalam suci-Mu…
di sini, Tasik…
12.08.07
Q-ta (?)
Di bawah atap ini
kita berteduh
berlindung dari terik dan hujan![]()
bahkan dari hembusan angin yang mengusik
ketenangan…
Di atas lantai ini
kita berpijak
berburu waktu
menyulam rindu,
Pada ayun langkah kehidupan
kita ikatkan kemesraan
seharusnya ada rasa bertautan
saling jaga meski beda
Namun egoisme tak habis terkikis
oleh usia dan keadaan,
kita punya rasa
punya langkah sendiri,
Indonesia…
Detik-detik Terakhir Saat Kita Harus Berpisah
Tak ada lagi suara
tak ada canda yang membahana
yang ada hanyalah isyarat
detakan hampa di dada…
sekian lama asa terbina
harus kikis disatu album kenangan
kebisuan entah apa maknanya
buat kita sadar bahwa hidup
memang fana…
Inilah detik-detik terakhir
saat kita harus berpisah…
Sahabat,
tataplah mataku
mungkin di sana akan kau temui
ungkapan hatiku,
Genggamlah tanganku,
mungkin kau akan merasakan hangatnya
kebersamaan kita dahulu…
Tak usah dibantah,
biarlah semua terjadi dengan Qodrat-Nya
biarlah kebisuan ini tetap terjaga
yang mungkin kelak untuk kita rindukan,
Jika ada sebait asa di jiwa
biarlah terangkai menjadi lirik-lirik lagu cinta
yang mungkin kelak kita dendangkan di lorong-lorong kesunyian;
Ya! Biarlah angin berhembus seperti biasa
Biarlah bumi terus berotasi…
Biarlah!
Karena kini,
kita telah kehilangan arti kebersamaan
tatapan tanpa harap
dekapan tanpa hangat
dan di simpang jalan ini,
kita melangkah sendiri-sendiri…
12.06.07
Tunggu Aku…
Kau boleh melihat
keadaanku saat ini
namun aku yakin
punya harapan kelak
yang tak ‘kan pernah padam
walau selalu tersiram derasnya airmata
tak ‘kan luluh
meski terus dibakar bara dunia dan luka
“Tunggu Aku…”
‘kan kubuktikan makna cinta
yang pernah kutitipkan
mungkin tlah usang?
namun tetap kujaga di kedalaman
jiwa qudusku…
Rindu
Jika kudapat mengulang waktu,
ingin rasanya diri ini kembali
ke saat itu
saat dimana diriku begitu dekat-Mu
disaat kucurahkan seluruh cintaku
Mungkin ada penyesalan
tapi aku memang rindu pada-Mu
sempat terbersit di hati
mengapa tak dari dulu
Kau berikan cahaya ini
mengapa tak dari dulu
Kau ulurkan Tangan-Mu menjamahku
Sempat kumenangis karena keresahan dan bimbang diri
aku berdiri di tepian
tak tahu jalan yang harus kupilih
aku terseret langkah tertatih
dalam babak baru kehidupanku
aku menjadi manusia seutuhnya
manusia yang hanya inginkan Ridha-Mu
ya Allah…