Desember 14, 2007

Narasi Cinta Ibnu Hazm

Posted in Mutiara pada 1:44 am oleh Indra Kosasih

“Ketika masih remaja, aku jatuh cinta kepada seorang gadis berambut pirang. Sejak itu aku tidak mengagumu gadis berambut hitam, meski pemiliknya berada di matahari atau sangat molek. Itu kecenderunganku sejak saat itu. Diriku tidak pernah mengagumi lagi kecuali rambut pirang. Itu pula kecenderungan ayahku.”

Kalimat diatas merupakan pengakuan pengakuan filosof dan ulama besar dunia, Ibnu Hazm. Lewat karyanya yang berjudul Thaukul Hamamah. Ibnu Hazm berhasil menjadikan dirinya sastrawan yang cukup disegani. Bukunya ini menjadi buku terlaris sepanjang abad pertengahan. Buku itu tidak hanya menarik bagi kalangan Islam, tetapi juga bagi kaum Nasrani di Eropa.

Padahal ibnu Hazm dikenal sebagai salah satu ulama kesohor di abad pertengahan. Lahir di Cordoba tahun 944 M., ia bernama lengkap Abu muhammad Ali bin Abdullah bin Ahmad bin Said bin Hazm. Ayahnya dikenal sebagai salah seorang menteri pada zaman Kholifah al Manshur.berduaan

Menurut penuturan Ibnu Hazm, cinta pertamanya bersemi ketika ia berusia 18 tahun. Sementara gadis pujaannya yang berambut pirang berumur 16 tahun. Gadis itu dikaguminya sampai habis. Ia mengatakan bahwa pujaanya itu seorang yang cantik, bertabiat baik, dan bertubuh sintal. Sigadis pun pandai bernyanyi dan memetik kecapi, yang menjadi trend kala itu.

Ibnu Hazm tergila-gila. Setiap hari selalu menanti gadis itu lewat di depan pintu rumahnya. Begitu gadis itu muncul, Ibnu Hazm langsung menguntitnya. Seperti kisah remaja pada umumnya, kisah cinta Ibnu Hazam penuh dengan romantika. Jika dikejar, si gadis berlalu dengan malu-malu dan rona wajahnya memerah. Tentang perilakunya yang terbuai itu Ibnu Hazm menulis, “Saya ingat benar bagaimana ketika saya selalu pergi ke ruangan tempat ia tinggal. Rasanya saya selalu ingin menuju pintu itu agar bisa dekat dengannya. Begitu ia melihat saya di dekat pintu, dengan gerakan lemah gemulai ia pergi ke tempat lain. Saya pun menguntitnya sampai ke pintu ruangantempat ia berada.”

Sayang, kisah cinta dua sejoli ini tidak berlangsung lama. Ketika berumur 20 tahun, ibnu Hazm dan keluarganya pindah ke Cordova timur ke Cordova Barat. Tentu saja gadisnya tidak ikut pindah. Malah tidak berapa lama kemudian gadis itu meninggal dunia. Gelap rasanya dunia ini saat mendengar kabar tersebut. Ibnu Hazm bertutur dalam kegalauan jiwanya, ” Ketika Mendengar ia meninggal, saya berumur 20 tahun. Sejak mendengar ia meninggal saya tidak menukar baju selama tujuh bulan. Selama itu pula mataku tidak pernah kering dari air mata. Demi Allah, hingga ini kepergiannya itu belum sembuh.”

Memandang Cinta

Menurut Ibnu Hazm, cinta itu sulit diuraikan. Tetapi pada orang yang jatuh cinta terdapat pertanda.

Pertama, kecanduan memandang orang yang dikasihi.

Kedua, segera menuju ke tempat kekasih berada, sengaja duduk di dekatnya dan mendekatinya.

Ketiga, gelisah dan gugup ketika ada seseorang yang mirip dengan orang yang dicintainya.

Keempat, kesediaan untuk melakukan hal-hal yang sebelumya enggan dilakukannya

Adapun yang mencoreng cinta menurut Ibnu Hazm adalah berbuat maksiat, antara lain berzina. Dan mengumbar hawa nafsu.

Iklan

2 Komentar »

  1. Imam Mawardi said,

    Dalam cinta ada kehidupan orang lain. Jangan terbalik dalam cinta kita sedang membunuh orang lain

  2. […] satu blog dari-Indonesia, penulis ini menceritakan (dengan olahan semula oleh saya): “Ketika masih remaja, aku jatuh cinta kepada […]


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: